Home » Darstellung » Budaya » Perubahan Produksi Film Horor Indonesia Periode 1971-2001

Perubahan Produksi Film Horor Indonesia Periode 1971-2001

Oleh: Tita Meydhalifah[1]

Film horor merupakan salah satu genre yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Genre film ini pertama kali diproduksi di Indonesia pada 1934 oleh The Teng Cun dengan judul Doea Siloeman Oeler Poeti en Item.[2] Pada 1950-1960, produksi film horor sempat terhenti karena pada periode tersebut tema yang menjadi fokus dari pembuat film (film maker) adalah perjuangan kemerdekaan Indonesia.[3] Film horor mulai diproduksi kembali pada masa pemerintahan Orde Baru yang mencabut kebijakan tentang pembatasan film Amerika ke Indonesia pada 1966. Dicabutnya kebijakan tersebut mengakibatkan film impor yang masuk ke Indonesia dikenakan bea. Dengan demikian, perolehan dana dari bea tersebut dialihkan pemerintah sebagai uang pinjaman untuk membantu pendanaan produksi film Indonesia.

Awal Produksi Film Horor Indonesia (1971-1980)

Film horor Indonesia yang berhasil diproduksi oleh sutradara M. Syarieffudin pada 1971 dengan bantuan dana pemerintah adalah Lisa. Pada tahun ini pula M. Syarieffudin berhasil memproduksi film Beranak dalam Kubur yang diperkirakan telah meraup keuntungan hingga Rp 72 juta. Kesuksesan produksi film horor tersebut dapat dicapai dengan cara memanfaatkan kedekatan antara narasi film dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Salah satu contoh kedekatan tersebut dapat dilihat dalam film Beranak dalam Kubur (1971) dan Setan Kuburan (1975) yang menceritakan tentang adanya masyarakat yang pindah tempat tinggal dari desa ke kota. Hal itu relevan dengan tingginya angka migrasi antar provinsi pada 1971-1980.

Menurut Gope T. Samtani, produser film Rapi Films, para pembuat film juga terinspirasi oleh kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hal-hal gaib. Oleh karena itu, kepercayaan terhadap hal-hal gaib dimunculkan dalam film Beranak dalam Kubur, Kemasukan Setan, dan Setan Kuburan. Pembuat film juga menggunakan latar pedesaan untuk mendukung suasana horor. Alasan lain digunakannya latar pedesaan adalah kuatnya kepercayaan orang-orang desa terhadap hal-hal gaib,[4] serta adanya keinginan pemerintah Orde Baru untuk mengontrol kondisi masyarakat. Latar pedesaan seringkali dikaitkan dengan kalangan abangan yang mempercayai hal gaib sekaligus mendukung gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Adanya kaitan tersebut mengharuskan akhir cerita film horor untuk menarasikan kekalahan dari orang-orang yang mempercayai hal gaib dengan dimunculkannya sosok pemuka agama. Sosok tersebut harus dimunculkan untuk menuntaskan kepercayaan terhadap hal gaib yang dikaitkan dengan ateisme dan komunisme (PKI).[5]

Pengawasan pemerintah Orde Baru terhadap film horor Indonesia semakin diperketat dalam Kode Etik Produksi Film Indonesia tahun 1981, yang mewajibkan produksi film nasional untuk menjaga moral bangsa. Adanya Kode Etik ini mengharuskan pembuat film untuk menampilkan dikalahkannya kejahatan oleh Pancasila maupun sosok pemuka agama.[6] Apabila pembuat film tidak berkenan menghadirkan kedua hal tersebut dalam filmnya, maka pembuat film setidaknya mampu memunculkan ciri khas ke-Indonesiaan dengan menghadirkan cerita-cerita legenda.[7]

Masa Keemasan Film Horor Indonesia (1981-1990)

Masa keemasan film horor Indonesia ditandai dengan tingginya keuntungan yang diperoleh dari produksi film horor.[8] Kesuksesan ini dapat dicapai karena pembuat film sering melibatkan sutradara dan pemain film terkenal. Sisworo Gautama Putra dan Suzanna merupakan salah dua dari sutradara dan aktris yang  dikenal dalam periode 1981-1990. Faktor lain yang turut mendukung kesuksesan film horor Indonesia adalah memunculkan unsur kepercayaan terhadap hal gaib yang lebih banyak daripada film horor Indonesia pada periode 1971-1980.

Pada periode ini, bentuk kepercayaan terhadap hal gaib diwujudkan dalam sosok dukun yang dianggap mampu mengatasi berbagai permasalahan sehari-hari. Salah satu contoh film yang menghadirkan sosok dukun adalah Ratu Ilmu Hitam (1981). Film ini bercerita mengenai balas dendam seorang gadis desa bernama Murni dengan menggunakan ilmu gaibnya. Kepercayaan masyarakat terhadap ilmu gaib dapat diketahui pula dari surat kabar tahun 1981 yang memberitakan tentang adanya upaya seorang pemuda untuk memiliki ilmu kebatinan dengan penyabetan keris.[9] Kedua contoh tersebut menandakan bahwa pembuat film horor berhasil menarasikan kepercayaan masyarakat terhadap hal gaib sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Narasi film horor yang tak bisa lepas dari ketentuan Kode Etik mengharuskan pembuat film untuk menempatkan kebaikan sebagai pemenang dari kejahatan. Hal tersebut dapat dilihat dari dinarasikannya tokoh dukun yang selalu mengalami kekalahan dari seorang kyai atau pemuka agama pada akhir cerita. Dipatuhinya Kode Etik tersebut terlihat dari dituntaskannya berbagai gangguan hantu terhadap suatu keluarga oleh seorang kyai dalam film Pengabdi Setan (1982). Kehadiran kyai dalam film horor biasanya didampingi oleh perangkat desa, hansip, atau pihak kepolisian. Tokoh-tokoh tersebut membantu kyai dengan cara menegakkan badan hukum maupun menjelaskan bahwa masyarakat tidak boleh main hakim sendiri karena Indonesia adalah negara hukum.[10] Penekanan mengenai Indonesia sebagai negara hukum memiliki relevansi dengan upaya Orde Baru yang menegaskan gagasannya dalam Simposium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada 6-9 Mei 1966 di UI. Simposium tersebut merumuskan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila, melindungi hak asasi, dan mengakui persamaan dalam aspek apa pun.[11]

Film horor Indonesia menampilkan pula adegan kekerasan, perempuan seksi, dan seks untuk menarik lebih banyak antusias penonton. Hal itu bertentangan dengan TAP MPR (S) No. II Tahun 1960 yang menjelaskan bahwa film merupakan alat pendidikan dan penerangan. Namun demikian peraturan tersebut tetap saja tidak dipatuhi karena pembuat film lebih mementingkan keuntungan yang didapatkan daripada muatan yang harus dimunculkan dalam filmnya.[12]

Kemunduran Film Horor Indonesia (1990-2000)

Perubahan besar yang dianggap sebagai penyebab utama kemunduran film horor Indonesia adalah perkembangan stasiun televisi swasta pada awal 90-an, terlebih menayangkan serial cerita horor dan memutar ulang film horor yang pernah tayang di bioskop.[13] Tayangan televisi yang lebih murah dan praktis mengakibatkan antusias masyarakat untuk pergi ke bioskop semakin menurun. Selain itu, perusahaan milik Sudwikatmono–saudara angkat Presiden Soeharto–bernama Sinepleks 21, turut serta menjadi salah satu faktor kemunduran film horor Indonesia. Hal tersebut dapat terjadi karena Sinepleks 21 memainkan monopoli dengan cara lebih banyak memutar film impor daripada film horor Indonesia yang dianggap memiliki kualitas dan daya tarik tinggi bagi penonton.[14]

Kualitas film horor Indonesia yang dianggap lebih rendah daripada film impor disebabkan oleh kelonggaran Badan Sensor Film (BSF) dalam meloloskan film yang bercampur adegan seks dan perempuan seksi.[15] Kelonggaran BSF terhadap sensor film horor terlihat dari munculnya hantu-hantu yang berbusana minim atau bahkan transparan sebagai pemeran utama. Salah satunya dapat dilihat dalam film Pembalasan Ratu Laut Selatan (1994) karya Tjut Djalil. Hal itu berbeda bila dibandingkan dengan film horor Indonesia pada periode sebelumnya yang menampilkan hantu berpakaian putih dan panjang, seperti dalam film Sundelbolong (1981), Pengabdi Setan (1982), Telaga Angker (1984), dan Malam Satu Suro (1988). Dimunculkannya adegan seks dan perempuan seksi dipengaruhi pula oleh keinginan pembuat film untuk menarik antusias penonton, tidak adanya kecaman dari kelompok agama, serta terbatasnya tema yang dapat dikerjakan pada masa pemerintahan Orde Baru.

Kondisi film horor Indonesia semakin terpuruk oleh krisis ekonomi tahun 1997, mengakibatkan banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap pegawai kalangan menengah bawah. Dengan demikian, film horor Indonesia kehilangan sasaran pasarnya yang merupakan kalangan menengah bawah. Krisis ekonomi yang berujung pada Reformasi dan lengsernya Presiden Soeharto tahun 1998 menyebabkan terjadinya euforia pada 1998-2001 atas kebebasan dari kekangan pemerintah Orde Baru. Euforia tersebut diekspresikan oleh anak-anak muda dengan membuat film independen untuk merombak identitas yang sebelumnya telah dibentuk pemerintah Orde Baru melalui film komedi, kekerasan, seks, serta horor.[16]

Era Baru Film Horor Indonesia (2001)

Euforia dengan fokus produksi film bertemakan pergerakan berimbas pada terhentinya produksi film horor pasca Reformasi. Film horor Indonesia kembali diproduksi pada 2001 oleh Jose Poernomo dan Rizal Mantovani dengan judul Jelangkung. Film tersebut bernuansa lebih modern dan memiliki narasi yang jauh berbeda dari film horor produksi 1971-1998.[17] Dalam film ini, tokoh utama tidak lagi diperankan sebagai hantu atau siluman. Tokoh utama dalam film Jelangkung adalah empat orang anak muda yang penasaran terhadap hal-hal berbau horor. Tokoh utama dalam film Jelangkung diceritakan senang mencari hantu di tempat-tempat angker tidak memiliki motif balas dendam seperti halnya film horor Indonesia pada periode-periode sebelumnya.

Film Jelangkung juga tidak lagi menempatkan hal gaib, legenda, dukun, maupun kyai sebagai unsur yang mendominasi dalam cerita film. Selain itu, latar perkotaan juga lebih banyak diperlihatkan dalam film ini daripada pedesaan. Tidak adanya Kode Etik yang harus dipatuhi menyebabkan film Jelangkung berbeda dari narasi film horor Indonesia sebelumnya. Bahkan, tokoh utama dalam film Jelangkung dapat dikalahkan oleh hantu dan peranan orang pintar dalam film ini hanya memberikan solusi saja, bukan menyelesaikan permasalahan. Dengan demikian, pembuat film dapat memproduksi filmnya sesuai dengan kreativitas dan gagasan yang dimiliki tanpa harus ketakutan menghadapi larangan tayang karena tidak lolos sensor.

Penutup

Perubahan produksi film horor Indonesia periode 1971-2001 dipengaruhi oleh ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, kedekatan narasi film dengan kondisi masyarakat, perkembangan stasiun televisi swasta, serta perubahan situasi politik. Unsur-unsur dalam film horor Indonesia seperti kyai, dukun, legenda, pedesaan, aparat desa, dan polisi tidak  semata-mata dilatarbelakangi oleh faktor keuntungan yang selalu dikejar oleh para pembuat film. Namun demikian, unsur tersebut memang sengaja dimunculkan untuk memenuhi Kode Etik yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga film horor yang diproduksi dapat disetujui peredarannya dan pembuat film tidak terancam merugi.


[1] Penulis adalah mahasiswa Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

[2] Katinka van Heeren, Contemporary Indonesian Film: Spirits of Reform and Ghosts from The Past. (Leiden: KITLV, 2012), hlm. 136.

[3] Ibid., hlm. 136.

[4] Sebastian Dimas T, “Orisinalitas Hantu dalam Film Horor Indonesia”, dalam Fajar Junaedi & Danu Asmoro (ed.), Elegi Dunia Perfilman Indonesia. (Yogyakarta: Atma Jaya Yogyakarta, 2010), hlm. 170.

[5] Thomas Alexander Charles Baker, “A Cultural Economy of the Contemporary Indonesian Film Industry”, Tesis S2 Philosophy, Department of Sociology (Singapore: NUS, 2011), hlm. 164

[6] Garin Nugroho & Dyna Herlina S., The Crisis and Paradoks of Indonesian Film (1900-2012). (Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY, 2015), hlm. 262.

[7] Katinka van Heeren, op. cit., hlm. 137-140.

[8] Fajar Junaedi, “Bernafas dalam Hollywood: Seks dalam Film-film Indonesia Bergenre Horor Pasca 1998”, dalam Budiawan (ed.), Media [Baru], Tubuh, dan Ruang Publik: Esei-esei Kajian Budaya dan Media. (Yogyakarta: Jalasutra, 2015), hlm. 44-45.

[9] “Seputar Jakarta-Meninggal Sewaktu Menuntut “Ilmu””, Kompas, 4 Desember 1981.

[11] Kholis Novrianto, “Pemikiran Politik dan Ekonomi Awal Orde Baru” dalam Taufik Abdullah (ed.), Indonesia dalam Arus Sejarah: Orde Baru dan Reformasi. (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2012), hlm. 118.

[12] Hinca I.P. Pandjaitan dan Dyah Aryani, Melepas Pasung Perfilman di Indonesia. (Jakarta: Warta Global Indonesia, 2001), hlm. xiii.

[13] Muhammad Lutfi, “Perkembangan Film Horor Indonesia Tahun 1981-1991” dalam AVATARA e-Journal Pendidikan Sejarah, Vol. 1, No.1, 2013, hlm. 188.

[14] “Bagaimana Bila di Indonesia Tidak Ada Film Nasional?”, Kedaulatan Rakyat, 19 April 1992.

[15] “Sejumlah Mahasiswa Tuntut BSF agar Memperketat Sensor Film”, Kompas, 9 Juli 1994.

[16] Katinka van Heeren, op. cit., hlm. 53.

[17] Karis Singgih A.P, “Analisis Genre Film Horor Indonesia dalam Film Jelangkung (2001)” Commonline Departemen Komunikasi, Vol.3, No.3, 2014, hlm. 562.

 

 

Referensi

Buku, makalah, dan tulisan ilmiah

Baker, Thomas Alexander Charles. A Cultural Economy of the Contemporary Indonesian Film Industry. Tesis S2. Department of Sociology. National University of Singapore, Singapore: 2011.

Budiawan (ed.). Media [Baru], Tubuh, dan Ruang Publik: Esei-esei Kajian Budaya dan Media. Yogyakarta: Jalasutra, 2015.

Carroll, Noel. The Philosophy of Horror or Paradoxes of The Heart. London: Routledge, Chapman and Hall, Inn, 1990.

Fajar Junaedi dan Danu Asmoro (ed.). Elegi Dunia Perfilman Indonesia, Yogyakarta: Atma Jaya Yogyakarta, 2010.

Garin Nugroho dan Dyna Herlina S. The Crisis and Paradoks of Indonesian Film (1900-2012). Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY, 2015.

Hinca I.P. Pandjaitan dan Dyah Aryani. Melepas Pasung Perfilman di Indonesia. Jakarta: Warta Global Indonesia, 2001.

Karis Singgih A.P. “Analisis Genre Film Horor Indonesia dalam Film Jelangkung (2001)”. Commonline Departemen Komunikasi, Vol.3 No.3, 2014.

Khoo Gaik Cheng dan Thomas Barker (ed.). Mau Dibawa Kemana Sinema Kita? Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia. Jakarta: Salemba Humanika, 2011.

Muhammad Lutfi. “Perkembangan Film Horor Indonesia Tahun 1981-1991”. AVATARA e-Journal Pendidikan Sejarah, Vol. 1, No.1, 2013.

Schneider, Steven Jay. Horror Cinema Across The Globe: Fear Without Frontiers. England: FAB Press, 2003.

Taufik Abdullah (ed.). Indonesia dalam Arus Sejarah: Orde Baru dan Reformasi. Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2012.

Van Heeren, Katinka. Contemporary Indonesian Film: Spirits of Reform and Ghosts from The Past. Leiden: KITLV, 2012.

 

Internet

https://cinemapoetica.com/jejak-film-horor-nusantara/, diakses pada 9 November 2017, pukul 10.49 WIB.

http://filmindonesia.or.id/movie/title/list/genre/horor, diakses pada 9 November 2017, pukul 11.00 WIB.

http://perfilman.perpusnas.go.id/kliping_artikel/detail/281, diakses pada 15 Desember 2017 pukul 03.42.

http://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/855

https://www.youtube.com/watch?v=9axbh6DKdG0&feature=youtu.be, diakses pada 9 Desember 2017 pukul 09.05 WIB.

 

Surat Kabar

Kedaulatan Rakyat, 19 April 1992.

Kompas, 4 Desember 1981.

Kompas, 9 Juli 1994.

 

Diskusi

Dyna Herlina dan Hanung Bramantyo dalam Public Lecture “Indonesia Film Audiences”, 12th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Fluidity”, Bulaksumur, 4 Desember 2017, pukul 12.30-16.00.

Rukman Rosadi dalam Public Lecture “Indonesia Film Audiences”, 12th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Fluidity”, Bulaksumur, 4 Desember 2017, pukul 08.30-12.00.

 

Filmografi

Beranak Dalam Kubur, 1971, dir. M. Syarieffudin.

Birahi Perempuan Halus, 1997, dir. Henry Fael L. Tobing.

Bisikan Setan, 1985, dir. B.Z. Kadaryono.

Dukun Lintah,  1981, dir. Ackyl Anwari dan Fred Wardy.

Gutur Tengah Malam, 1990, dir. A. Rachman.

Jelangkung, 2001, dir. Jose Poernomo dan Rizal Mantovani.

Le Manoir du Diable (The Haunted Castle), 1896, dir. Georges Melies.

Lukisan Berlumur Darah, 1988, dir. Torro Margens.

Malam Jumat Kliwon, 1986, dir. Sisworo Gautama Putra.

Malam Satu Suro, 1988, dir. Sisworo Gautama Putra.

Misteri Banyuwangi, 1998, dir. Walmer Sitohang.

Misteri Rumah Tua, 1987, dir. Lilik Sudjio.

Mystic in Bali (Leak), 1981, dir. Tjut Djalil.

Nosferatu, 1922, dir. Freiedrich Wilhelm Murnau.

Nyi Lamped Karang Hawu, 1990, dir. Charles Anakotta.

Pembalasan Ratu Laut Selatan (Lady Terminator), 1994, dir. Tjut Djalil.

Pemburu Mayat, 1972, dir. Kurnaen Suhardiman.

Pengabdi Setan, 1982, dir. Sisworo Gautama Putra.

Pernikahan Berdarah, 1987, dir. Torro Margens.

Putri Kunti’anak, 1988, dir. Atok Soeharto.

Ratu Ilmu Hitam, 1981, dir. Imam Tantowi.

Santet, 1988, dir. Sisworo Gautama Putra.

Sepasang Mata Maut. 1989, dir. Torro Margens.

Setan Kuburan, 1975, dir. Daeng Harris.

Sundel Bolong, 1981, dir. Sisworo Gautama Putra.

Telaga Angker, 1984, dir. Sisworo Gautama Putra.

The Omen, 1976, dir. Richard Donner.

Warisan Terlarang, 1990, dir. Abdul Kadir.


Leave a comment

Your email address will not be published.